Minggu, 05 Juni 2016

Laporan Praktikum Farmasi Fisik, Kelarutan Semu/Total (Apparent Solubility)



LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK

PERCOBAAN II
KELARUTAN SEMU/TOTAL ( APPARENT SOLUBILITY )

 
 
NAMA                                : SARMITA
NIM                                    :  O1A114164
KELAS                               :  D
KELOMPOK                      : I
ASISTEN PEMBIMBING : HUSNAENI


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015


KELARUTAN SEMU/TOTAL (APPARENT SOLUBILITY)
A.      TUJUAN
            Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap kelarutan bahan obat yang bersifat asam lemah.
B.       LANDASAN TEORI
            Kesetimbangan kelarutan mirip dengan kesetimbangan antar zat cair (atau zat padat) yang mudah menguap dalam bejana tertutup. Dalam kedua hal, partikel-partikel dari fasa pekat cenderung untuk keluar dan menyebar ke volume yang lebih luas, tetapi terbatas. Dalam kesetimbangan penguapan kondensasi, kita asumsikan bahwa uap diatas fasa pekat awalnya adalah gas ideal. Asumsi awal yang sama untuk reaksi pelarutan-pengendapan adalah bahwa larutan di atas zat padat yang tidak larut adalah larutan ideal. Larutan dimana cukup zat terlarut telah dilarutkan untuk mencapai kesetimbangan pelarutan – pengendapan antara zat padat dan bentuk terlarutnya disebut larutan jenuh. Penambahan pelarut menurunkan konsentrasi spesies terlarut, penambahan zat padat cenderung untuk mengembalikan konsentrasi spesies terlarut ke kesetimbangannya. Jika pelarut yang ditambahkan terlalu banyak maka semua zat padat akan larut, kemudian kesetimbangan kelarutan menurun, dan larutan menjadi tidak jenuh (Oxtoby,dkk, 2001).
            Hukum Henry menyatakan bahwa kelarutan gas dalam cairan tergantung dari tekanan parsial gas dari koefisien kelarutannya. Gas yang berbeda memiliki koefisien kelarutan yang berbeda. Semakin tinggi koefisien kelarutan, semakin mudah larut gas tersebut. Suatu larutan (solutio) terdiri dari zat terlarut (solut) dan pelarut (solven). Zat pelarut adalah substansi yang dilarutkan, jika air merupakan zat pelarut, maka larutan ini disebut juga larutan aqueous. Larutan jenuh adalah larutan yang tidak dapat melarutkan lebih banyak zat padat lagi pada temperatur tertentu. Larutan tak jenuh adalah larutan yang masih dapat melarutkan zat padat. Air merupakan zat pelarut yang baik karena strukturnya- kecil dan berbentuk v. Air sebagai molekul polar akan melarutkan senyawa polar dan ionik ( Joyce, J.,dkk., 2008)
            Istilah  kelarutan dalam pengertian umum kadang-kadang perlu digunakan, tanpa mengindahkan perubahan kimia yang mungkin terjadi pada pelarutan tersebut. Pernyataan kelarutan zat pada bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o dan kecuali dinyatakan lain menunjukkan bahwa, 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan yang tidak disertai angka adalah kelarutan pada suhu kamar. Kecuali dinyatakan lain, zat jika dilarutkan boleh menunjukkan sedikit kotoran mekanik seperti bagian kertas saring, serat dan butiran debu (Dirjen POM, 1979).
            Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Beberapa metode dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat, antara lain: melalui pembentukan garam, perubahan struktur internal kristal (polimorfi) atau penambahan suatu bahan penolong, misalnya bahan pengompleks
surfaktan dan kosolven  (Erindyah R.W., 2005).
Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranpenting dalam sediaan farmasi lebih dari 50% senyawwa kimia baru yang ditemukan saat ini yang bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri,dkk.,2004).

    

C.       ALAT DAN BAHAN
1.             Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
a.       Batang pengaduk
b.      Gelas kimia 100 ml
c.       Gelas kimia 50 ml
d.      Kertas saring
e.       Labu takar 100 ml
f.       Oven
g.      Pipet tetes
h.      Tabung reaksi
i.        Timbangan analitik
2.        Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
a.       Aquadest
b.      Asam Benzoat
c.       Asam Salisilat
d.      Natrium Salisilat





D.           PROSEDUR KERJA
Buffer
pH 4
Buffer
pH 4.5

Buffer
pH 5

Buffer
pH 4.2

 





Ø Dipipet 10 ml
Ø Dimasukkan kedalam tabung reaksi
Ø Ditambahkan asam benzoat 0,2 gram.
Ø Dikocok selama 20 menit.
Ø Disaring menggunakan kertas saring.
Filtrat
Residu
 


Ø Dikeringkan.di dalam oven.
Ø Ditimbang kertas saring
Ø Dihitung kelarutan semu
Ø  pH 4     =  0,09 M
Ø  pH 4,2   =  0,08 M
Ø  pH 4,5   = 0,14 M
Ø  pH 5      = 0,58 M
E.   HASIL PENGAMATAN
1.      Tabel Pengamatan
No.
Larutan
Berat Awal
Berat Akhir
Berat Asam Benzoat
Buffer
Kertas Saring
Kertas Saring
yang Tidak Larut
1
pH 4
1.07 gram
1.20 gram
0.13 gram
2
PH 4.2
1.07 gram
1.22 gram
0.15 gram
3
pH 4.5
1.07 gram
1.21 gram
0.14 gram
4
pH 5
1.07 gram
1.26 gram
0.19 gram
2.      Perhitungan
a.         Mencari massa asam benzoat yang larut
m. asam benzoat = 0.2 gram
Ø  Untuk pH 4
m. asam benozat larut = m. asam benzoat – m. asam benzoat tidak larut
                                    = 0.2 gram – 0.13 gram
                                    = 0.07 gram
Ø  Untuk pH 4.2
m. asam benozat larut = m. asam benzoat – m. asam benzoat tidak larut
                                    = 0.2 gram – 0.15 gram
                                    = 0.05 gram
Ø  Untuk pH 4.5
m. asam benozat larut = m. asam benzoat – m. asam benzoat tidak larut
                                    = 0.2 gram – 0.14 gram
= 0.06 gram
Ø  Untuk pH 5
m. asam benozat larut = m. asam benzoat – m. asam benzoat tidak larut
                                    = 0.2 gram – 0.19 gram
                                    = 0.01 gram
b.        Mencari konsentrasi kelarutan instrinsik (So)
Volume = 0.01 L
Mr asam benzoat = 122 gram/mol
Ø  Untuk pH 4
 
Ø  Untuk pH 4.2
Ø  Untuk pH 4.5
 
Ø  Untuk pH 5
c.         Mencari konsentrasi kelarutan semu/total (S)
pKa asam benzoat = 4.2
Ø  Untuk pH 4
Ø  Untuk pH 4.2
Ø  Untuk pH 4.5


Ø  Untuk pH 5
3.             Tabel Berrdasarkan Hasil Perhitungan Data Pengamatan
No
Ph
A
B
C
D
So
S
1
4
1,07
1,20
0,2
0,13
0,06
0,09
2
4,2
1,07
1,22
0,2
0,15
0,04
0,08
3
4,5
1,07
1,21
0,2
0,14
0,05
0,14
4
5
1,07
1,26
0,2
0,19
0,08
0,58








    
Keterangan :
     A    : Massa Kertas Saring
     B     : Massa Kertas Saring + Massa Asam Benzoat Tidak Larut (A+D)
     C     : Massa Asam benzoat
     D    : Massa Asam Benzoat yang Tidak Larut
     So   : Kelarutan Intrinsik
     S     : Kelarutan Semu       



4.             Grafik Hubungan antara pH dan Larutan Semu











 F.        PEMBAHASAN
Kelarutan adalah kadar jenuh solut dalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukkan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solut atau solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekul yang homogeny. Suatu larutan dikatakan jenuh apabila terjadi kesetimbangan antara fase solut dan fase solven dalam larutan yang bersangkutan. Kelarutan semu merupakan keadaan dimana suatu zat terlarut seolah-olah telah larut seluruhnya dan zat pelarut, namun sebenarnya masih terdapat bagian zat terlarut yang tidak larut.
Apabila suatu zat partikelnya kecil maka akan dengan mudah larut pada pelarut hal ini disebabkan oleh luas permukaan zat yang besar. Karena semakin kecil zat tersebut maka akan semakin besar luas permukaannya. Dalam proses kelarutan suatu zat terlarut di dalam zat pelarut sangat ditentukan dengan tingkat kepolaran dari zat terlarut maupun zat pelarut. Senyawa polar hanya akan larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar hanya akan larut pada senyawa non polar.
Larutan juga dikatakan sebagai sistem dispersi molekular. Jadi suatu zat dapat dikatakan melarut jika dia terlepas dari padatannya dan terdispersi dalam cairan. Bentuk kelarutan yang paling sering digunakan adalah sangat larut, larut bebas, larut, larut sedikit, sulit larut, sangat sulit larut, dan tidak larut. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan sifat kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Dikatakan sebagai pelarut ketika kondisi fisiknya (padat/cair/gas) sama dengan hasil larutannya itu. Misal gula dan air, hasilnya larutan gula yang cair jadi pelarutnya air.
Adapun faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kelarutan yaitu pertama kemurnian solut atau solven. Temperatur, secara umum peningkatan temperatur larutan meningkatkan kelarutan zat padat. Untuk semua gas kelarutan menurun dengan peningkatan temperatur. Kedua adalah tekanan, untuk solut padat dan cair perubahan dalam tekanan secara praktis tidak mempengaruhi kelarutan. Ketiga adalah Laju kelarutan adalah suatu ukuran dari seberapa cepat suatu zat terlarut.dan kelima yaitu Temperatur, untuk solut padat dan cair, kenaikkan temperatur tidak hanya meningkatkan jumlah solut yang terlarut tapi juga meningkatkan laju saat solut melarut.
Penentuan kelarutan semu/total (Apparent solubility) pada percobaan ini digunakan asam benzoat yang dicampurkan pada larutan buffer yang telah dibuat. Sebelumnya dibuat terlebih dahulu larutan dapar dengan pH 4 kemudian dilanjutkan membuat larutan dapar dengan pH 4,2 , pH 4,5 dan pH 5. Semua larutan dapar dengan pH berbeda-beda terlebih dahulu di larutkan. Tujuannya adalah agar dapat bercampur dengan asam benzoat Setelah itu larutan tersebut dimasukkan dalam tabung reaksi dan di kocok hingga 20 menit. Apabila dalam penggojokan larutan buffer yang ditambahkan 0,2 gram asam benzoat haruslah bisa sampai homogen setelah larutan tersebut telah digojok selama 20 menit kemudian, larutan tersebut disaring untuk dipisahkan antara Filtrat dan Residu. Kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven sekitar 10-15 menit. Tujuan dari pengeringan ini adalah agar pada saat penimbangan berat yang diukur pada timbangan analitik hanya berat asam benzoat yang tidak larut dan berat kertas saring. Kemudian diukur berat garam yang di dapatkan dengan cara berat endapan garam dikurangi berat kertas saring.
Massa  yang di dapatkan dari residu yaitu setelah berat kertas saring akhir dikurangi dengan berat kertas saring awal maka berat asam benzoat yang tidak laryt untuk Ph 4 sebasar 0,13 gram, pH 4,2 sebesar 0,15 gram, pH 4,5 sebesar 0,14 gram, dan pH 5 Sebesar 0,19 gram. Perbedaan yang di dapatkan pada percobaan ini disebabkan karena berbagai faktor yaitu diantaranya masih adanya kandungan air (H2O) pada kertas saring sehingga berat yang di dapatkan berbeda-beda, selain itu, tingkat ketidaktepatan dalam menimbang bahan yang akan digunakan sehingga perhitungan yang di dapatkan nanti akan jauh berbeda dengan hasil yang seharusnya di dapatkan. Kesalahan lainnya adalah waktu pengocokan larutan dalam tabung reaksi yang berisi asam benzoat larutan dalam tabung reaksi tersebut tertumpah sehingga massanya akan berkurang dan akan mengalami perbedaan massa asam benzoat yang tidak larut karena pada masing-masing praktikan pada saat menggojoknya caranya juga berbeda-beda selain itu,  pada saat pengocokkan tidak akurat karena sering berhenti, akibatnya garam yang terpisah dengan larutan tidak didapatkan maksimal.
Sifat fisik asam benzoat berbentuk padat, tidak berbau, tidak berasa, memiliki berat molekul 122.12 g/mol, tidak berwarna, mengandung pH 1%, titik didih 249.2˚C (480.6°F), titik lebur 122.4°C (252.3°F), tidak memiliki temperature, bobot jenis 1.2659 (air = 1), memiiki uap diudara 4.21 (udara =1).

Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Efektivitas terapi obat yang digunakan secara topikal tergantung dari kemampuannya berpenetrasinya dan terakumulasi dalam tubuh. Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu oleh momen dipolnya. Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi. Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh. Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan
Obat-obat yang kelarutannya sangat kecil sering banyak menimbulkan masalah pada proses absorpsinya setelah obat diberikan, karena obat dapat diabsorpsi oleh tubuh bila sudah dalam bentuk terdistribusi secara molekular di tempat proses absorpsi berlangsung. Upaya mengatasinya antara lain dapat dilakukan melalui peningkatan kecepatan disolusinya. Proses pelarutan disebut solvasi atau hidrasi jika pelarutnya air. Larutan dalam keadaan tertentu menahan lebih banyak solut lebih dari keadaan normal solven
Manfaat kelarutan dalam bidang farmasi yaitu kelarutan sangat berguna untuk mengetahui tingkat kelarutan senyawa obat saat dimasukkan ke dalam tubuh. Melalui kelarutan dapat diketahui tingkat kecepatan obat tersebut untuk dapat larut dalam tubuh. Kelarutan pula dapat membantu membuat sediaan padat dalam bentuk kristal garam contoh pembuatan Natrium Salisilat dan Amonium klorida.
Berbagai sifat dari larutan yang telah diuraikan di atas, seperti kepolaran, konstanta dielektrik merupakan beberapa pendukung sistem kelarutan obat. Dalam bidang farmasi kelarutan intrinsik obat memiliki peran yang sangat penting, karena dapat mengetahui dan dapat  membantu  dalam  memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat, mengatasi kesulitan-kesulitan  tertentu  yang  timbul  pada  waktu  pembuatan  larutan farmasetis dan dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan.

G.           KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini yaitu diperolah hasil bahwa konsentrasi kelarutan semu/total yaitu untuk pH 4 sebesar 0, 09 M, pH 4,2 sebesar 0,08 M, pH 4,5 sebesar  0,14 M dan pH 5 sebesar 0,58 M. Jadi, tingkat keasaman larutan (pH) dapat mempengaruhi kelarutan berbagai jenis zat. Suatu basa umumnya lebih larut dalam larutan yang bersifat asam, dan sebaliknya lebih sukar larut dalam larutan yang bersifat basa. Garam-garam yang berasal dari asam lemah akan lebih mudah larut dalam larutan yang bersifat asam kuat.




DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi Ketiga, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Erindyah,R.W., dan Sukmawati, A., 2005, Peningkatan Kelarutan Pentagamavunon- 1 Melalui Pembentukan Kompleks Dengan Polivinilpirolidon, Jurnal Penelitian Sains Dan Teknologi, Vol 6 (2), Hal 127-137.

Joyce, J., Colin, B., Helen, S., 2008, Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan, Erlangga, Jakarta.

Jufri, M., Binu, A., Julia, R., 2004, Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi, Ilmu Kefarmasian, Vol I (3), Hal 160-174.

Oxtoby, Gillis, Nachtrieb, Suminar., 2001, Prinsip-Prinsip Kimia Modern,   Erlangga, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar